Mamat mengatakan pihaknya sempat kehilangan kontak dengan sejumlah peserta aksi yang dibawa aparat. Ia kemudian berupaya menyelamatkan peserta lain yang berada di dekatnya.
“Akhirnya gua ngamanin beberapa orang, enam orang dibawa ke tempat aman,” katanya.
Menurut Mamat, hampir seluruh peserta aksi mengalami luka, meskipun sebagian di antaranya disebut hanya mengalami luka ringan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Rata-rata luka semua,” ujarnya.
Ia mengaku baru mengetahui kondisi sejumlah rekannya secara lebih jelas setelah melihat rekaman video kericuhan.
“Setelah kita lihat di video itu kan parah, sampai yang ditonjok gitu. Rata-rata teman-teman juga pasti kecewa. Hampir rata-rata luka semua,” katanya.
Hamas Pertanyakan Pengamanan Aksi
Mamat mempertanyakan pola pengamanan yang dilakukan aparat dalam aksi tersebut. Menurut dia, aparat seharusnya memastikan penyampaian aspirasi berlangsung aman dan terkendali.
“Seharusnya yang pertama mereka bertugas untuk mengamankan. Bukan untuk membubarkan atau meng-chaos-kan situasi,” tegasnya.
Ia mengatakan tuntutan Hamas sebenarnya sederhana. Massa meminta Bupati Serang atau pejabat yang memiliki kewenangan hadir dan mendengarkan aspirasi mereka secara langsung.
Aksi membawa lumpur, kata Mamat, merupakan simbol keresahan masyarakat yang sehari-hari menghadapi persoalan lumpur. Lumpur tersebut dibawa ke lokasi aksi sebagai bentuk ekspresi agar pemerintah melihat persoalan yang dirasakan masyarakat.
“Keinginan Hamas simpel, tanpa harus ada kekerasan. Cukup dihadirkan bupati atau pihak yang punya kebijakan agar tuntutan kami tersampaikan,” katanya.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







