Perayaan HUT Banten ke-26 di pusat pemerintahan bertolak belakang dengan realita warga. Di saat pejabat berpidato, puluhan kilometer di pusat pemerintahan, ada petani dan nelayan yang masih berjuang melawan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.
TOTALBANTEN.COM, SERANG –
Pagi 4 Oktober 2026, perayaan 26 tahun Provinsi Banten berlangsung di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) Kota Serang. Di atas panggung, usia seperempat abad lebih itu dirayakan dengan berbagai narasi capaian pembangunan, program pemerintah dan optimisme tentang masa depan.
“Pembangunan bukan semata-mata tentang seberapa banyak program yang kita laksanakan, tapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan dan seberapa nyata perubahan yang dapat dihadirkan bagi masyarakat,” kata Andra Soni dalam sambutannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada hari yang sama, beberapa puluh kilometer dari pusat pemerintahan itu, suasana berbeda terlihat sejumlah daerah. Seperti di Kabupaten Pandeglang, Lebak, Cilegon, Kabupaten Serang bahkan Tangerang.
Tidak ada perayaan. Tidak ada pembicaraan tentang usia Banten yang genap 26 tahun. Hari berjalan sebagaimana hari-hari sebelumnya, dengan persoalan yang jauh lebih dekat dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Samsuri, seorang nelayan di Kecamatan Panimbang, Pandeglang, bahkan tidak mengetahui bahwa 4 Oktober merupakan hari jadi Provinsi Banten.
Bagi Samsuri, ukuran perubahan selama 26 tahun bukan tentang perayaan hari jadi provinsi. Ia melihatnya dari kehidupan masyarakat yang masih harus berhadapan dengan persoalan kesejahteraan.
“Kita tidak tahu ada HUT Banten, tapi itu gak penting juga kalau masyarakat masih hidup dalam kesusahan,” katanya kepada Total Banten.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan masih terdapat 746,73 ribu penduduk miskin di Banten pada Maret 2026. Angka tersebut setara dengan 5,38 persen penduduk.
Kemiskinan tidak tersebar dengan tingkat yang sama. Di wilayah perdesaan, persentase penduduk miskin mencapai 6,23 persen, lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan yang berada pada angka 5,21 persen.
Pada periode yang sama, garis kemiskinan Banten tercatat Rp753.492 per kapita per bulan. Dengan rata-rata anggota rumah tangga miskin sebanyak 5,17 orang, angka tersebut setara dengan sekitar Rp3,9 juta per rumah tangga per bulan.
Angka-angka tersebut menjadi bagian dari gambaran kesejahteraan Banten ketika pembangunan terus berjalan dan berbagai program pemerintah dilaksanakan.
Editor : Imam Maulana
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya