Saniin tidak mengetahui bahwa Banten sedang memperingati HUT ke-26. Ia menilai kondisi pendidikan di wilayahnya sudah cukup baik. Namun, ketika berbicara tentang ekonomi dan pekerjaan, persoalannya berbeda.
“Pendidikan ini lumayan. Tapi ekonomi mah agak-agak susah sekarang. Susah cari kerja. Susah cari kerja, enggak dapat,” ungkapnya.
Kesulitan mencari pekerjaan kemudian bertemu dengan persoalan lain, yaitu meningkatnya harga kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Saniin, persoalan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi juga kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Yang penting lah masalah ekonomi agak-agak murah. Belanja-belanja juga agak murah. Sekarang naik semua, memang beban. Susah-susah.”
Dari Panimbang hingga Tunjung Teja dan Mancak, persoalan yang disampaikan warga memiliki bentuk berbeda. Nelayan berbicara tentang kesulitan hidup. Petani berbicara tentang air, peralatan dan ekonomi. Warga lainnya berbicara tentang pekerjaan dan harga kebutuhan.
Di Kota Serang, Hidayat, seorang pedagang, juga tidak mengetahui bahwa Banten sedang memperingati hari jadinya.
Ketika diminta menilai kondisi pemerintahan Banten, Hidayat menyampaikannya dari sudut pandangnya sebagai warga.
“Tidak tahu (HUT Banten). Menurut saya Banten makin acak-acakan pemerintahannya,” pungkasnya.
Empat warga dari wilayah berbeda itu tidak berbicara dengan bahasa statistik. Mereka berbicara dari pengalaman sehari-hari.
Sementara itu, statistik BPS mencatat masih ada 746,73 ribu penduduk miskin, tingkat kemiskinan 5,38 persen, kemiskinan perdesaan 6,23 persen, serta tingkat pengangguran terbuka 6,48 persen pada 2026.
Catatan Redaksi: Di tengah perayaan 26 tahun Provinsi Banten, dua gambaran tersebut bertemu pada satu pertanyaan yang sama: seberapa jauh pembangunan yang dijalankan pemerintah telah menjadi perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat?
Editor : Imam Maulana
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya