Kami seperti dicekik. Gunung-gunung dikeruk sampai habis meninggalkan lubang-lubang besar. Laut kami ditimbun. Debu setiap hari kami hirup. Ruang tangkap semakin sempit.
TOTALBANTEN.COM, SERANG – Laut bagi masyarakat Bojonegara bukan sekadar bentang air yang memisahkan daratan. Di sanalah penghidupan diwariskan lintas generasi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah pesisir utara Kabupaten Serang berubah cepat.
Kapal tongkang, alat berat, dan proyek reklamasi perlahan menggantikan ruang tangkap yang selama puluhan tahun menjadi sumber nafkah nelayan.
Di tengah geliat investasi, muncul dua kenyataan yang berjalan beriringan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Reklamasi menghadirkan kawasan industri baru, aktivitas ekonomi, hingga kompensasi bagi sebagian kelompok masyarakat. Namun di sisi lain, nelayan mengaku ruang melaut semakin sempit, hasil tangkapan menurun, dan ekosistem pesisir terus berubah.
Persoalan itu kini bergeser dari sekadar keluhan masyarakat menjadi isu yang dibawa hingga ke pemerintah pusat.
Kamis (23/7/2026), Front Kebangkitan Petani dan Nelayan (FKPN) bersama perwakilan nelayan Bojonegara mendatangi Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta. Mereka diterima Staf Ahli Bidang Advokasi dan Penguatan Partisipasi Publik, Yudi Syamhudi Suyuti.
Bagi FKPN, reklamasi di pesisir utara Banten telah melampaui persoalan investasi. Mereka menilai negara harus hadir memastikan pembangunan tidak mengorbankan lingkungan hidup dan masyarakat pesisir.
“Negara tidak boleh hanya melihat investasi dari sisi nilai ekonominya, tetapi harus menghitung biaya ekologis dan biaya sosial yang ditanggung rakyat. Jangan sampai keuntungan korporasi dibayar dengan hilangnya ruang hidup nelayan,” kata Penasihat FKPN, Kholid Mikdar.
Konflik yang Terus Membesar
Editor : Andre S Negara
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya