Persoalan lainnya terlihat dari kondisi ketenagakerjaan. Pada Mei 2026, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Banten berada pada angka 6,48 persen.
Jumlah penduduk yang bekerja mencapai 5,88 juta orang. Namun, dari jumlah tersebut, sekitar 2,88 juta orang atau 48,99 persen bekerja dalam kegiatan formal.
Bagi warga yang kehidupannya bergantung pada pekerjaan sehari-hari, angka-angka tersebut hadir dalam bentuk yang berbeda. Ia menjadi soal apakah pekerjaan tersedia, apakah penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan, dan apakah pendapatan mampu mengikuti kenaikan biaya hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Tunjung Teja, Kabupaten Serang, misalnya, Rawian, seorang petani, juga tidak mengetahui bahwa pada hari itu Banten memperingati ulang tahunnya yang ke-26.
Ia tidak menjadikan perayaan sebagai ukuran utama perubahan. Persoalan yang ia rasakan justru berada di sawah dan pada kondisi ekonomi rumah tangga.
“Gak ada kerasa apa-apa masalah Banten 26 tahun itu. Bahkan masalah ekonomi kesulitan,” ujarnya.
Rawian mengatakan persoalan yang dihadapi petani bukan hanya berkaitan dengan hasil pertanian, tetapi juga kebutuhan dasar untuk mengelola lahan.
Air menjadi salah satu persoalan ketika sawah harus tetap digarap. Di sisi lain, keterbatasan peralatan membuat pekerjaan petani tetap bergantung pada kemampuan yang tersedia.
“Belum. Belum pernah sejahtera. Macam di sawah, petani yang nyangkul kekurangan air. Gak ada alat buat penarik di sawahnya,” ujarnya.
Namun, Rawian tidak menutup mata terhadap perubahan yang terjadi selama Banten menjadi provinsi. Salah satu yang ia rasakan adalah kondisi jalan di kampungnya yang kini lebih baik.
“Alhamdulillah di kampung saya ini selama 26 tahun masalah jalan udah, alhamdulillah, udah baik. Cuma masalah ekonomi banyak lemah masyarakat,” ungkapnya.
Sedangkan di Kampung Kadu Embe, Desa Sangiang, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, persoalan serupa muncul dalam bentuk lain.
Editor : Imam Maulana
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya