Mikroorganisme kemudian dapat dimanfaatkan untuk membantu proses penguraian bahan organik di lahan pertanian. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tanah, jenis tanaman, serta karakteristik larutan yang dibuat.
Ia menambahkan, frekuensi penggunaan pupuk organik dan larutan mikroba tidak bisa disamaratakan. Aplikasinya dapat dilakukan mingguan atau bulanan, bergantung pada jenis produk dan kebutuhan lahan.
FORTEGIF juga memperkenalkan pembuatan pupuk cair berbahan kacang kedelai, tetes beras ketan, molase, dan nanas. Baharudin mencontohkan, larutan tersebut dapat diencerkan untuk aplikasi penyemprotan maupun pengocoran dengan takaran berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, ia menekankan pentingnya menyesuaikan dosis dan cara aplikasi dengan kebutuhan tanaman. Penggunaan pupuk buatan sendiri juga perlu dievaluasi agar manfaatnya dapat diukur dan tidak sekadar berdasarkan perkiraan.
Klaim Peningkatan 10–30 Persen Perlu Pembuktian di Lapangan
Baharudin mengaku, berdasarkan pengalaman yang mereka lakukan di sejumlah daerah, pertanian berbasis organik berpotensi memberikan hasil lebih baik dalam jangka panjang. Ia memperkirakan peningkatan kesuburan atau hasil pertanian dapat mencapai 10 hingga 30 persen.
Namun, angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan pengalaman yang disampaikan FORTEGIF. Besaran peningkatan hasil panen tetap perlu dibuktikan melalui pengukuran dan perbandingan produktivitas di lapangan, dengan memperhitungkan jenis tanaman, kondisi tanah, cuaca, serta biaya produksi.
Ia berharap penerapan pertanian organik di Kecamatan Kragilan dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga petani tidak hanya memperoleh manfaat dari sisi kesuburan tanah, tetapi juga memiliki alternatif untuk menekan biaya usaha tani.
“Harapannya, melalui pertanian organik, tanah kita semakin baik dan petani semakin mandiri. Kita ingin mengembalikan kondisi tanah agar lebih subur sehingga tanaman bisa tumbuh dengan baik dan hasilnya sesuai harapan petani,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, FORTEGIF mendorong petani Tunas Mekar Terpadu untuk tidak sekadar bergantung pada pupuk yang dibeli dari pasar, tetapi mulai mengenali potensi bahan organik di lingkungan sekitar dan mengolahnya secara tepat untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Editor : Engkos Kosasih







