Sebaliknya, komoditas kakao mengalami kontraksi terdalam, merosot 43,70 persen atau setara US$102,27 juta (sekitar Rp1,61 triliun).
Dari sisi tujuan ekspor, pasar utama Banten masih didominasi Tiongkok, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi gabungan mencapai 34,18 persen.
Nilai ekspor ke Tiongkok mencapai US$271,35 juta (Rp4,29 triliun), Amerika Serikat US$237,86 juta (Rp3,76 triliun), dan India US$168,23 juta (Rp2,66 triliun).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, ekspor ke kawasan ASEAN dan Uni Eropa masing-masing mencapai US$493,97 juta (Rp7,80 triliun) dan US$242,08 juta (Rp3,82 triliun).
Berdasarkan sektor, penurunan terutama terjadi pada industri pengolahan yang turun 7,96 persen, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang merosot 18,25 persen. Di sisi lain, sektor pertambangan justru melonjak signifikan hingga 56 persen.
Aktivitas ekspor Banten masih terkonsentrasi di Pelabuhan Tanjung Priok dengan nilai US$1,589 miliar (sekitar Rp25,10 triliun) atau 78,55 persen dari total ekspor.
Pelabuhan Cigading dan Merak menyusul dengan kontribusi masing-masing sekitar Rp2,40 triliun dan Rp2,06 triliun.
Sementara itu, dari sisi impor, Banten menunjukkan tren sebaliknya. Nilai impor Januari–Februari 2026 mencapai US$7,731 miliar atau sekitar Rp122,15 triliun, naik 28,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Editor : Imam Maulana
Sumber Berita : BPS Banten
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






