Impor nonmigas bahkan tumbuh lebih tinggi, yakni 30,35 persen menjadi US$6,764 miliar (Rp106,87 triliun).
Khusus Februari 2026, impor melonjak 29,82 persen menjadi US$4,234 miliar (Rp66,90 triliun). Kenaikan ini didorong oleh lonjakan impor nonmigas yang tumbuh 33,61 persen menjadi US$3,791 miliar (Rp59,90 triliun).
Peningkatan terbesar terjadi pada kelompok mesin dan pesawat mekanik yang melonjak hampir tiga kali lipat atau 197,11 persen senilai US$890,49 juta (sekitar Rp14,07 triliun).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, impor bahan kimia organik justru mengalami penurunan signifikan sebesar US$218,63 juta (sekitar Rp3,45 triliun).
Tiongkok, Australia, dan Singapura menjadi tiga pemasok utama barang impor ke Banten, dengan nilai masing-masing US$1,630 miliar (Rp25,76 triliun), US$1,195 miliar (Rp18,88 triliun), dan US$1,012 miliar (Rp15,99 triliun).
Struktur impor menunjukkan dominasi bahan baku dan barang modal. Impor bahan baku naik menjadi US$4,763 miliar (Rp75,26 triliun).
Adapun impor barang modal melonjak tajam menjadi US$2,517 miliar (Rp39,77 triliun), sementara barang konsumsi mencapai US$450 juta (Rp7,11 triliun).
Lonjakan impor, khususnya pada barang modal, mengindikasikan masih kuatnya aktivitas industri di Banten.
Editor : Imam Maulana
Sumber Berita : BPS Banten
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






