Ia mengingatkan bahaya praktik jurnalistik yang semata-mata mengandalkan kecepatan dan kecanggihan teknologi kecerdasan artifisial tanpa disertai kualitas, etika, dan tanggung jawab. Praktik semacam itu, menurutnya, berisiko melahirkan informasi keliru, bahkan bersifat halusinatif.
“Pers yang hanya mengandalkan kecepatan dan kecantikan AI tanpa kualitas akan semakin menjauh dari publiknya sendiri,” kata Muhaimin.
Pada kesempatan yang sama, ia menegaskan jurnalisme tidak boleh kalah oleh algoritma. Ia mendorong insan pers untuk mengimbangi perkembangan teknologi digital dengan daya kritis, keberimbangan, dan komitmen pada kebenaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Editor : Engkos Kosaasih
Sumber Berita : totalbanten.com
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






