Menurut Dita, kebutuhan tenaga kerja di Jepang saat ini didominasi oleh sektor pertanian, perawat lansia (caregiver), dan otomotif. Selain itu, tersedia pula peluang kerja di bidang ground handling bandara.
“Kebutuhan paling banyak saat ini perawat lansia dan pertanian, lalu otomotif,” ucapnya.
Namun, ia menegaskan bahwa keberangkatan ke Jepang mensyaratkan kesiapan sumber daya manusia. Calon pekerja wajib memiliki sertifikat bahasa Jepang minimal level N4, dari lima level yang tersedia. Sertifikasi bahasa tersebut dikeluarkan oleh Japan Foundation.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, Dita menyampaikan, calon pekerja juga harus mengantongi sertifikasi keahlian spesifik (Specific Skill Worker) sesuai bidang yang dilamar.
“Kalau mau di otomotif harus punya sertifikat otomotif. Kalau perawat lansia, harus punya sertifikat perawat lansia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, skema yang dijalankan KJS merupakan penempatan pekerja migran, bukan magang. Biaya pelatihan dan penempatan berkisar Rp27 juta, dengan penghasilan yang dinilai lebih baik dibandingkan skema magang.
“Kalau magang biasanya gajinya justru di bawah pekerja migran,” katanya.
Kata dita Saat ini pelatihan masih dilaksanakan di Tangerang Selatan.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






