Nasib Sarjana di Banten; Terpaksa Masuk S2 Agar Tak Dicap Pengangguran di Gudangnya Industri 

Sabtu, 10 Januari 2026 - 22:31

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Sarjana Menganggur. (GeminiAI)

Pengamat Pendidikan di Banten, Rizal Fauzi berpandangan bahwa ada tiga faktor utama yang membuat sarjana sulit masuk ke dunia kerja, pertama; ketimpangan keterampilan atau skill.

“Industri di Banten sangat berorientasi pada teknis dan automasi. Sementara itu, banyak lulusan universitas lokal yang masih mengandalkan teori konvensional tanpa penguasaan teknologi digital atau sertifikasi BNSP yang spesifik dibutuhkan pabrik;” katanya.

Faktor yang kedua lanjut Rizal, karena serbuan pendatang, posisi strategis Banten sebagai tetangga Jakarta membuat persaingan tidak hanya antar-warga lokal.

“Sarjana dari seluruh penjuru Indonesia datang menyerbu lowongan di Tangerang dan Serang, membuat lulusan lokal harus berjuang ekstra keras,” ujarnya.

Yang terakhir ungkap Rizal, banyak perusahaan yang memiliki standar tinggi misal ‘Dicari Fresh Graduate, pengalaman minimal 2 tahun’ yang sebetulnya hal itu hanya alasan semu.

“Lelucon pahit ini menjadi kenyataan bagi banyak pelamar di Banten. Perusahaan cenderung memilih kandidat yang sudah siap pakai untuk menekan biaya pelatihan di tengah ekonomi yang melambat,” ungkapnya.

Transformasi Pendidikan Harus Menuju Sistem ‘Siap Kerja’

Menurut Rizal, agar lulusan sarjana tidak lagi menjadi penonton di rumah sendiri, sistem pendidikan di Provinsi Banten harus melakukan perombakan radikal.

Kata Dosen Universitas Serang Raya (Unsera) ini, langkah-langkah transformatif yang diperlukan yakni, perubahan Penerapan Kurikulum Dual System (Link and Match)

“Kampus tidak boleh lagi menjadi menara gading yang terisolasi. Harus ada sinkronisasi kurikulum di mana 40-50 persen masa studi dihabiskan langsung di industri melalui magang bersertifikat yang diakui sebagai SKS,” katanya.

Selain itu, kampus juga harus memiliki pusat sertifikasi profesi, karena masuk dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan ijazah saja. Mengingat, rata-rata industri di Banten membutuhkan orang yang siap kerja tanpa harus memberikan pelatihan.

“Perguruan tinggi harus bekerja sama dengan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) untuk menerbitkan sertifikat keahlian seperti spesialis K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), manajemen logistik, atau pemrograman tingkat lanjut,” pungkas Rizal di kantor Total Banten.

Editor : Engkos Kosasih

Follow WhatsApp Channel totalbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Tag :
Jika Anda menemukan kekeliruan dalam pemberitaan kami, ingin memberikan saran pengembangan konten, atau ingin menggunakan Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai dengan Undang-Undang Pers, silakan hubungi kami melalui kontak yang tersedia di website kami

Berita Terbaru

Berita Terkait

Sabtu, 10 Januari 2026 - 22:31

Nasib Sarjana di Banten; Terpaksa Masuk S2 Agar Tak Dicap Pengangguran di Gudangnya Industri 

Berita Terbaru

News

Gubernur Banten Hindari Pertanyaan soal Anggaran Tenaga Ahli Rp55,47 Miliar

Kamis, 23 Jul 2026 - 21:33

Legislatif

Hari Anak Nasional 2026, DPRD Banten Dorong Pendidikan Aman dan Bebas Kekerasan

Kamis, 23 Jul 2026 - 21:29

News

72 Tahun Tinggal di Rumah Reyot, Marnah Menunggu Uluran Tangan Pemerintah yang Tak Kunjung Datang

Kamis, 23 Jul 2026 - 20:57

Legislatif

DPRD Pandeglang Usul Merger Sekolah, Infrastruktur Rusak dan Minim Siswa Jadi Sorotan

Kamis, 23 Jul 2026 - 20:37

News

Krisis Air Mencekik! Lebih dari 40 Hektar Sawah di Binong Gagal Panen

Kamis, 23 Jul 2026 - 20:27

Exit mobile version