Nasib Sarjana di Banten; Terpaksa Masuk S2 Agar Tak Dicap Pengangguran di Gudangnya Industri 

Sabtu, 10 Januari 2026 - 22:31

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Sarjana Menganggur. (GeminiAI)

Tak sedikit sarjana di Banten merasa menjadi ‘hantu’ di daerahnya sendiri. Ketatnya persaingan dan tingginya standar perusahaan membuat mereka terpaksa beralih profesi (seperti menjadi driver ojek online) atau terjebak dalam kecemasan sosial akibat sulitnya menembus pintu industri.

TOTALBANTEN.COM, SERANG – Provinsi Banten secara konsisten menduduki peringkat atas sebagai destinasi investasi nasional. Namun, di balik megahnya pabrik-pabrik di Cilegon dan luasnya kawasan industri di Serang serta Tangerang, tersimpan potret buram tingginya angka pengangguran di level lulusan Universitas (Sarjana).

Di balik deretan pabrik raksasa yang membentang tersebut, ada suara-suara yang kian lirih namun penuh kecemasan. Salah satunya datang dari Rifki Sukmawan (25) seorang lulusan Akutansi dari sebuah Universitas Swasta di Banten diwisuda 2023 lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pukul 03.00 WIB. Saat sebagian besar warga Kota Serang terlelap dalam dinginnya sisa hujan semalam, lampu di kamar Rifki masih menyala.

Di depannya, layar laptop memancarkan cahaya biru yang pucat, menampilkan puluhan tab LinkedIn, portal loker, dan artikel jurnal yang tak benar-benar ia baca.

Bagi Rifki begadang bukan lagi soal tugas akhir yang dikejar deadline. Ini adalah mekanisme pertahanan diri. Di keheningan malam, ia merasa aman dari pertanyaan-pertanyaan penghakiman tentang ‘kerja di mana?’.

Namun, di saat yang sama, malam adalah waktu di mana kepalanya bising dengan pertanyaan: ‘Ke mana arah hidup saya setelah toga itu dilepas?’

Pagi hari bagi Rifki adalah momen paling menyiksa. Ketika cahaya matahari mulai mengintip dari celah jendela, ia justru merasakan kecemasan yang hebat.

Ia mendengar suara tetangganya memanaskan motor untuk berangkat ke kawasan industri di Cikande atau Bojonegara.

Siang harinya dihabiskan dalam kelesuan. Rifki seringkali pura-pura sibuk di depan laptop jika ibunya lewat di depan kamar.

Ia melakukan aktivitas ‘semu’: memperbaiki CV untuk ke-50 kalinya, mengganti template portofolio, atau sekadar melakukan scrolling tanpa henti.

“Saya merasa seperti hantu di rumah sendiri. Ada, tapi tidak memiliki fungsi,” kata Rifki tersenyum tipis di kantor Total Banten, Jumat (10/1/2026).

Editor : Engkos Kosasih

Follow WhatsApp Channel totalbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pansus DPRD Banten Kawal Penyertaan Modal Jamkrida Rp163,5 Miliar agar Berdampak bagi UMKM
Bupati Serang Jawab Enam Fraksi, Revisi RTRW dan Penyertaan Modal BPR Disorot Enam Fraksi, Begini Jawaban Bupati Serang
Enam Fraksi DPRD Kabupaten Serang Soroti Dua Raperda Usulan Bupati
RSDP Serang Evaluasi Layanan IGD untuk Perkuat Mutu Pelayanan Pasien
Bupati Serang Sasar Pemerataan Infrastruktur hingga Pelosok Desa, 26 Ruas Jalan Diusulkan ke Provinsi
Jalan Desa Jadi Prioritas, Pemkab Serang Perkuat Konektivitas dan Ekonomi Masyarakat
Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Serang Molor Dua Jam, Fraksi PDI-P Enggan Bacakan Pandangan Umum
Kecewa Audiensi Ditunda, Aktivis KNPI Sisir Ruangan Pimpinan DPRD Pandeglang
Jika Anda menemukan kekeliruan dalam pemberitaan kami, ingin memberikan saran pengembangan konten, atau ingin menggunakan Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai dengan Undang-Undang Pers, silakan hubungi kami melalui kontak yang tersedia di website kami

You cannot copy content of this page

Exit mobile version