Nasib Sarjana di Banten; Terpaksa Masuk S2 Agar Tak Dicap Pengangguran di Gudangnya Industri 

Sabtu, 10 Januari 2026 - 22:31

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Sarjana Menganggur. (GeminiAI)

Rifki merupakan satu diantara 53 ribu sarjana yang per Februari 2025 tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai pengangguran.

Secara keseluruhan pengangguran terbuka di Banten berjumlah 412 ribu orang atau 6,64 persen dari total Penduduk Usia Kerja (PUK) sebanyak 9,44 juta orang.

Dari ratusan ribu pengangguran di Banten itu, 9,34 persen pengangguran terbuka disumbang oleh lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Artinya, dari 100 orang angkatan kerja tamatan SMA terdapat sekitar 9 orang penganggur.

Kondisi terbalik dirasakan oleh tamatan Diploma I/II/III dan Diploma IV, S1, S2, S3, di mana serapan kerja masih sangat rendah yakni 11,90 persen. Jauh dari jumlah serapan kerja tamatan SMA ke atas, yang mencapai 49,62 persen.

Padahal, berdasarkan data yang dimiliki Total Banten, jumlah Industri Skala Menengah dan Besar, sebanyak 3.397 perusahaan aktif pada tahun 2024.

Industri ini didominasi oleh sektor manufaktur seperti kimia, logam (baja), makanan, dan tekstil yang tersebar di Cilegon, Serang dan Tangerang.

Sedangkan untuk Industri Mikro dan Kecil (IMK), jumlahnya jauh lebih besar, yakni mencapai 39.673 unit usaha dengan sebaran di 8 Kabupaten Kota.

Bagi Rifki, Banten adalah ironi yang nyata. Provinsi yang dikenal sebagai pusat industri manufaktur terbesar di Indonesia ini justru menjadi medan tempur yang ‘brutal’ bagi para lulusannya sendiri.

“Banten itu gudangnya pabrik, tapi kalau kita sarjana baru tanpa pengalaman, rasanya seperti mencoba mendobrak pintu besi tanpa kunci,” keluh Rifki.

Rifki mengaku akan kembali melanjutkan studi ke magister atau S2 untuk menghindari label pengangguran.

Sihab (25) sarjana Administrasi Publik, lebih memilih menjadi driver di salah satu ojek online (Ojol) di Banten, saking sempitnya lapangan kerja bagi lulusan sarjana seperti dirinya.

“Saat ini profesi masuk akal dan mereka tidak tanya IPK, yang penting bisa jualan dan komunikatif,” ujar Sihab.

Faktor Sarjana ‘Nganggur’

Editor : Engkos Kosasih

Follow WhatsApp Channel totalbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pansus DPRD Banten Kawal Penyertaan Modal Jamkrida Rp163,5 Miliar agar Berdampak bagi UMKM
Bupati Serang Jawab Enam Fraksi, Revisi RTRW dan Penyertaan Modal BPR Disorot Enam Fraksi, Begini Jawaban Bupati Serang
Enam Fraksi DPRD Kabupaten Serang Soroti Dua Raperda Usulan Bupati
RSDP Serang Evaluasi Layanan IGD untuk Perkuat Mutu Pelayanan Pasien
Bupati Serang Sasar Pemerataan Infrastruktur hingga Pelosok Desa, 26 Ruas Jalan Diusulkan ke Provinsi
Jalan Desa Jadi Prioritas, Pemkab Serang Perkuat Konektivitas dan Ekonomi Masyarakat
Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Serang Molor Dua Jam, Fraksi PDI-P Enggan Bacakan Pandangan Umum
Kecewa Audiensi Ditunda, Aktivis KNPI Sisir Ruangan Pimpinan DPRD Pandeglang
Jika Anda menemukan kekeliruan dalam pemberitaan kami, ingin memberikan saran pengembangan konten, atau ingin menggunakan Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai dengan Undang-Undang Pers, silakan hubungi kami melalui kontak yang tersedia di website kami

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:08

Pansus DPRD Banten Kawal Penyertaan Modal Jamkrida Rp163,5 Miliar agar Berdampak bagi UMKM

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:30

Bupati Serang Jawab Enam Fraksi, Revisi RTRW dan Penyertaan Modal BPR Disorot Enam Fraksi, Begini Jawaban Bupati Serang

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:18

Enam Fraksi DPRD Kabupaten Serang Soroti Dua Raperda Usulan Bupati

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:59

RSDP Serang Evaluasi Layanan IGD untuk Perkuat Mutu Pelayanan Pasien

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:00

Bupati Serang Sasar Pemerataan Infrastruktur hingga Pelosok Desa, 26 Ruas Jalan Diusulkan ke Provinsi

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page

Exit mobile version