Ilusi Ekonomi di Tengah Biaya Sosial: Menakar Ulang Wajah Hiburan Malam di Kota Serang

Sabtu, 20 Desember 2025 - 13:39

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anime Kepala Bapenda Kota Serang, Hari W Pamungkas. (GeminiAI)

Anime Kepala Bapenda Kota Serang, Hari W Pamungkas. (GeminiAI)

Penulis : Kepala Bapenda Kota Serang, Hari W Pamungkas

Perdebatan mengenai keberadaan hiburan malam di Kota Serang kerap berlangsung dalam suasana emosional. Ada yang menolaknya atas nama moral, ketertiban, dan nilai religius.

Ada pula yang membelanya dengan dalih penciptaan lapangan kerja dan kontribusi ekonomi. Namun, di tengah tarik-menarik tersebut, satu hal sering luput dibahas secara serius:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berapa sebenarnya harga sosial yang harus dibayar masyarakat dari aktivitas hiburan malam, dan apakah harga itu sebanding dengan manfaat yang diterima daerah.

BACA JUGA :  Ketika PIP Berubah Jadi Kartu Undangan Kampanye Anggota DPR

Paradoks Angka: Manfaat Kecil, Beban Besar

Pendekatan moral semata tidak pernah cukup untuk merumuskan kebijakan publik. Sebaliknya, pendekatan ekonomi yang hanya melihat omzet dan jumlah tenaga kerja juga berpotensi menyesatkan.

Yang dibutuhkan adalah sudut pandang yang lebih utuh, yakni analisis biaya dan manfaat sosial (social cost and social benefit).

Data menunjukkan bahwa di Kota Serang terdapat sedikitnya 19 titik usaha hiburan malam yang mencakup karaoke, bar, hingga kelab malam.

BACA JUGA :  Bentengi Guru dari Kriminalisasi, Pemkot Serang Segera Bentuk Satgas Perlindungan

Industri ini sering disebut sebagai sektor padat karya, dan memang benar bahwa sekitar 170 tenaga kerja terserap di dalamnya. Namun, jika dikalkulasikan secara ekonomi, kontribusi tersebut relatif kecil.

Estimasi manfaat ekonomi tahunan yang dihasilkan dari sisi upah dan belanja lokal hanya berada di kisaran Rp3,9 miliar per tahun.

Angka ini menjadi semakin problematis ketika dibandingkan dengan biaya sosial yang muncul. Aktivitas hiburan malam membawa konsekuensi yang tidak ringan: peningkatan beban penegakan ketertiban, potensi kriminalitas, risiko kesehatan akibat konsumsi alkohol dan zat adiktif, gangguan kebisingan, hingga ketidaknyamanan sosial bagi warga sekitar.

BACA JUGA :  UIN SMH Banten Kolaborasi Bareng ITB, Transformasi Digital Teknologi

Biaya-biaya ini memang tidak tercatat dalam laporan keuangan pemerintah daerah, tetapi nyata dirasakan oleh masyarakat.

Penulis

Follow WhatsApp Channel totalbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika PIP Berubah Jadi Kartu Undangan Kampanye Anggota DPR

Berita Terkait

Sabtu, 20 Desember 2025 - 13:39

Ilusi Ekonomi di Tengah Biaya Sosial: Menakar Ulang Wajah Hiburan Malam di Kota Serang

Minggu, 14 Desember 2025 - 02:24

Ketika PIP Berubah Jadi Kartu Undangan Kampanye Anggota DPR

Berita Terbaru