Pemilihan PT Pos Indonesia sebagai mitra transporter dilakukan karena perusahaan tersebut dinilai memiliki pengalaman dalam distribusi bantuan pangan sekaligus didukung armada logistik yang memadai.
“PT Pos kan salah satu transporter yang selama ini memang sudah pernah melakukan tugas untuk mengantarkan beras-beras untuk penerima manfaat dan sudah banyak dipakai baik untuk Bapanas sendiri karena mereka punya armada yang memadai. Sehingga tidak kesulitan bagi PT Pos untuk menyalurkan bantuan yang dari ketahanan pangan ke wilayah-wilayah yang memang sudah ditetapkan,” tutur Nasir.
Namun, langkah distribusi tersebut dilakukan ketika beras biofortifikasi yang menjadi target bantuan belum seluruhnya tersedia. DKP Banten baru menandatangani kontrak kerja sama dengan PT Pos Indonesia pada 8 September 2026 dengan masa kontrak selama satu tahun.
Nasir mengatakan langkah tersebut dilakukan agar proses distribusi bisa langsung berjalan ketika beras hasil produksi petani sudah tersedia.
“Ya, baru kemarin kita kontrak kerja sama, walaupun padinya belum panen dan perkiraan panen bulan ini. Cuma kan tetap kita harus melakukan kerja sama agar begitu pihak ketiga nanti yang menyalurkan ini sudah langsung bisa diantar oleh PT Pos,” tegas Nasir.
Ia optimistis target 13 ton beras biofortifikasi dapat terpenuhi. Menurutnya, DKP Banten akan memanfaatkan hasil budidaya yang dilakukan Dinas Pertanian bersama kelompok tani.
Beras yang dihasilkan petani nantinya akan dibeli untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat penerima manfaat. DKP juga akan melakukan pengujian laboratorium untuk memastikan kandungan zinc pada beras sesuai dengan standar yang ditargetkan.
“Ya, sudah insyaallah kan Dinas Pertanian juga kan melakukan kegiatan budidaya dengan kelompok tani ya. Kita kerja sama dengan kelompok tani agar hasil beras yang dihasilkan beras bio fortifikasi itu bisa kita ambil untuk kita berikan kepada penerima manfaat dan itu nanti juga kita lakukan uji di lab sesuai dengan kandungan apakah betul sesuai dengan keinginan kita bahwa zinc harus ada,” tutur Nasir.
Nasir mengakui kebutuhan terhadap beras biofortifikasi sebenarnya cukup besar. Namun, pihaknya tidak ingin sembarang mengambil beras yang beredar di pasaran karena khawatir sudah tercampur dengan jenis beras lainnya.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
