Karena itu, DKP Banten memilih beras yang berasal langsung dari hasil budidaya petani yang memang menanam padi biofortifikasi.
“Banyak sih beras-beras fortifikasi di lapangan itu yang kita lihat kan hasil racikan dan mungkin-mungkin kalau di solehan-solehan kan ada. Kalau kita kan memang harus yang langsung ditanam oleh petani ibaratnya real lah itu hasil daripada menanam petani,” ucap Nasir.
Terkait waktu pelaksanaan, Nasir menyebut program tersebut sebenarnya diharapkan dapat berjalan lebih awal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, proses budidaya baru dimulai setelah Dinas Pertanian menyalurkan benih padi biofortifikasi kepada petani beberapa waktu lalu.
Kondisi tersebut membuat proses produksi hingga penyaluran bantuan harus menyesuaikan dengan masa tanam dan panen.
“Harusnya dari kemarin-kemarin cuma kan karena belum ada, baru Dinas Pertanian baru beberapa bulan juga kemarin membagi benih bio for sehingga petani nanam padi sedikit lambat. Nah, sekarang nanti hasilnya kita yang beli sehingga ada manfaatnya petani nanam kemudian hasilnya bisa dikonsumsi oleh orang-orang yang kekurangan nutrisi,” tutur Nasir.
DKP Banten berharap kerja sama dengan PT Pos Indonesia dapat membuat distribusi bantuan pangan berjalan lebih cepat, efisien, dan tepat sasaran.
“Ya, artinya cepat, efisien gitu ya. Makanya kita kerja sama dengan PT Pos ini agar tidak ada hambatan karena PT Pos ini kan perusahaan logistik punya armada yang memadai,” pungkasnya.
Editor : Engkos Kosasih