Bagi Hanif, keberadaan mesin berkapasitas besar tidak akan menyelesaikan persoalan sampah apabila proses pemilahan tidak berjalan dari sumbernya. Karena itu, pengelolaan sampah harus melibatkan masyarakat.
“Langkah-langkah yang paling optimal tentu tidak tuntas di sini saja, harus turun ke masyarakat,” katanya.
Persoalan itu menjadi penting bagi Kabupaten Serang yang hingga kini belum memiliki TPA sampah. Hanif meminta industri pulp dan kertas ikut mendukung langkah pemerintah daerah, khususnya dalam memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita telah minta pimpinan Pulp and Paper, Indah Kiat Pulp and Paper untuk kemudian mendukung langkah-langkah Bupati Serang dalam memberikan edukasi dan contoh-contoh konkret terkait dengan pilah sampah di Kabupaten Serang dan Kota Serang,” ujarnya.
Hanif berharap Kota Serang dan Kabupaten Serang dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia untuk mempercepat penanganan sampah.
Ia juga melihat pemilahan sampah bukan semata-mata persoalan lingkungan. Sampah yang dipisahkan berdasarkan jenisnya dapat memiliki nilai ekonomi dan kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan.
“Kalau sudah sampah itu terpilah, maka ada energi yang kemudian bisa didayagunakan. Yaitu mungkin kertas bisa menjadi uang, plastik bisa menjadi uang,” kata Hanif.
Potensi pemanfaatan sampah tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan industri kertas nasional. Hanif menyebut terdapat sekitar 113 perusahaan industri kertas di Indonesia dengan kebutuhan bahan baku mencapai sekitar 14 juta ton per tahun.
Dari kebutuhan tersebut, sekitar 7 juta ton disebut dapat dipenuhi melalui virgin pulp atau bahan baku dari hutan tanaman industri. Sementara sisanya berasal dari kertas bekas.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







