Hanif mengatakan sekitar 60 hingga 70 persen kertas bekas yang digunakan industri kertas masih berasal dari impor.
“Dari 14 juta ton itu baru 7 jutanya yang mampu dipenuhi melalui virgin pulp atau dari hutan tanaman industri. Sisanya, ini dari kertas bekas,” ujarnya.
Di sisi lain, Wakil Direktur PT Indah Kiat Pulp & Paper Heppy Moiras mengatakan perusahaan siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Serang dalam program pengelolaan sampah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Heppy, pemilahan menjadi syarat penting karena RDF yang diproduksi di fasilitas perusahaan membutuhkan bahan baku dengan karakteristik yang lebih homogen.
“Iya kita siap berkolaborasi dengan arahan dari Pak Kadis LH Kabupaten Serang. Prinsipnya sampah-sampah harus dipilah karena di kami RDF-nya ini jenisnya yang lebih homogen,” kata Heppy.
Perusahaan, kata dia, siap mendukung program pemilahan yang dilakukan pemerintah daerah. Jenis sampah yang dapat dimanfaatkan akan disesuaikan dengan kebutuhan pengolahan di fasilitas tersebut.
Heppy juga menegaskan bahwa pengolahan sampah di PT Indah Kiat bukan kegiatan yang baru dimulai. Pengembangan fasilitas dilakukan secara bertahap dan kini telah memasuki tahap ketiga.
“Oh sudah berjalan, sudah beroperasi. Ini enggak ujug-ujug, jadi bertahap. Yang disaksikan beliau ini adalah yang tahap tiga yang investasinya lebih besar, kapasitasnya lebih besar,” ujarnya.
Untuk kapasitas pengolahan saat ini, Heppy menyebut berada di kisaran 6.000 ton. Namun, angka tersebut merupakan kapasitas fasilitas, sedangkan pengoperasian tetap disesuaikan dengan kondisi optimal.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







