Cerita serupa dialami Muhammad Hasbi Fabiansyah (15), siswa baru jurusan Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) di SMK PGRI Pandeglang. Remaja asal Desa Gunungputeri, Kecamatan Banjar, itu juga gagal diterima di SMA Negeri 6 Pandeglang melalui jalur domisili.
Hasbi baru mengetahui sekolah yang dipilihnya mengikuti Program Sekolah Gratis setelah melihat spanduk di depan sekolah saat proses pendaftaran.
“Saya baru tahu waktu mau daftar. Ternyata sekolahnya gratis, cuma bayar seragam,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ibunya, Lilis Herlis, sehari-hari berjualan jajanan dan minuman di warung kecil. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, pembebasan biaya SPP dinilai sangat membantu. Hasbi bahkan mengaku uang jajannya sering kali berasal dari kakaknya.
Ia juga menyaksikan kakak kandungnya pernah terpaksa menghentikan kuliah karena keterbatasan biaya. Pengalaman itu membuatnya semakin menghargai kesempatan untuk tetap mengenyam pendidikan.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Banten, pada Tahun Ajaran 2025/2026 sebanyak 801 SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) swasta telah bergabung dalam Program Sekolah Gratis. Hingga saat ini, tercatat 60.705 siswa telah terverifikasi sebagai penerima manfaat.
Di balik angka tersebut, tersimpan ribuan kisah keluarga yang berjuang agar anak-anak mereka tetap dapat bersekolah.
Bagi Hafidz, kesempatan itu bukan sekadar bebas dari biaya pendidikan, melainkan jalan untuk menjaga cita-cita yang nyaris terhenti.
Editor : Engkos Kosasih