
Menurut Indra, perubahan mulai terjadi setelah proyek rehabilitasi pintu air dan pembangunan tanggul di aliran utama Kali Ciputat pada 2024. Sejak itu, aliran Kali Ciputat kecil yang mengarah ke kawasan BXChange tidak lagi berfungsi.
“Dulu airnya jernih, bisa buat mandi, berenang. Saya pernah menyusuri sampai Pondok Jaya,” ujarnya.
Pada dekade 1980–1990-an, aliran tersebut menjadi bagian dari kehidupan warga. Airnya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara sungai menjadi habitat ikan tawar seperti tawes, gabus, dan betok, serta kerang air tawar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain fungsi domestik, aliran itu juga berperan dalam mengairi sawah yang dahulu membentang di kawasan tersebut—lahan yang kini telah berubah menjadi kawasan komersial.
“Dulu fungsinya buat sawah, airnya mengalir bagus,” kata Indra.
Ia berharap aliran itu dapat dipulihkan. “Yang penting hidup lagi, dirapikan,” ujarnya.
Perubahan aliran di hulu diduga berdampak pada wilayah hilir. Salah satu kawasan yang merasakan dampaknya adalah Komplek Taman Mangu Indah. Perumahan yang dilintasi Kali Ciputat itu kini menghadapi peningkatan intensitas banjir.
Di RW 12, Kelurahan Jurang Mangu Barat, puluhan rumah memasang plang “Dijual”. Dari pendataan lapangan, sekitar 38 rumah menawarkan diri untuk dilepas pemiliknya.
Seorang warga yang telah tinggal lebih dari 30 tahun menyebut banjir sebagai alasan utama.
“Saya kurang tahu detailnya, tapi yang jelas karena banjir,” ujarnya.
Fenomena rumah dijual meningkat sejak 2024—periode yang beriringan dengan perubahan aliran air. Banjir yang kian sering terjadi tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga menggerus rasa aman warga.
Editor : Imam Maulana
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya