
Setiap hari, ia mengeluarkan modal Rp200.000 untuk mengolah 3 kilogram tepung beras. Saat jam menunjukkan pukul 8 malam dan dagangannya habis, ia membawa pulang Rp300.000.
“Dapat untung seratus ribu sehari itu sudah lebih dari cukup. Saya di sini (Cipocok) cuma tinggal berdua sama teman. Hidup tidak perlu muluk-muluk, yang penting berkah,” ucapnya.
Udin tampak mahir dalam memasukan adonan kue putu ke dalam bambu kecil, sesekali ia menyeka keringat dengan handuk lusuh yang setia melingkar di lehernya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baginya, kebahagiaan bukan tentang seberapa besar tumpukan uang, melainkan tentang rasa cukup yang lahir dari kerja keras sendiri.
Di balik ketangguhannya, Udin adalah seorang ayah yang berhasil. Ketiga anaknya dua perempuan dan satu laki-laki kini telah dewasa dan semuanya sudah bekerja.
Beban hidupnya kini tak seberat dulu saat anak-anaknya masih sekolah. Hanya si bungsu yang saat ini masih melajang, sementara yang lain telah menempuh jalannya masing-masing.
Namun, ada harga yang harus dibayar dari setiap kepulan uap putunya, jarak. Istri tercintanya berada di Cirebon, sementara ia harus berjuang di Serang. Hanya dua bulan sekali ia bisa memacu kerinduan untuk pulang ke kampung halaman.
“Ini mah dekat di Serang, bisa pulang dua bulan sekali. Dulu waktu merantau di Riau saya pulang satu tahun sekali,” katanya.
Mulai pukul 3 sore, Udin mulai mengayuh. Ia tidak mencari kekayaan instan, ia mencari keberlanjutan. Di usia yang tak lagi muda, semangatnya justru melampaui kondisi fisiknya.
“Paling cepat jam 6 sore juga udah pulang,” pungkasnya.
Kisah Udin adalah pengingat bagi kita semua yang sering lupa bersyukur. Bahwa di atas sepeda tua yang hampir ringkih itu, ada harga diri seorang kepala keluarga yang tetap tegak berdiri.
Ia tidak meminta-minta; ia menjual kenikmatan dalam balutan uap bambu, satu butir kue putu demi satu butir harapan untuk masa tua yang tenang bersama istrinya nanti di Cirebon.