Bunyi itu keluar dari lubang bambu kecil yang tertancap di atas tungku uap. Di baliknya, berdiri seorang pria dengan wajah penuh gurat usia namun selalu dihiasi senyum lebar.
Ia adalah Udin Saputra (58), seorang perantau asal Cirebon yang sejak 2012 telah mewarnai sore hari warga di Cipocok Jaya dan sekitarnya dengan kue putu buatannya.
Kendaraan Udin bukan motor mengkilap, melainkan sebuah sepeda tua yang sudah reot. Rangkanya mungkin bergoyang saat melintasi jalan bergelombang, namun di atas tumpukan besi itulah dapur kecilnya berada.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepeda berwarna merah itu adalah saksi bisu bagaimana ia bertahan di perantauan selama lebih dari satu dekade.
“Jualan kue putu itu unik. Bunyinya itu yang jadi perhatian orang. Tanpa saya teriak, orang sudah tahu kalau saya datang,” ujar Udin, Jumat (16/1/2026).
Bagi banyak orang, uang seratus ribu rupiah mungkin hanya cukup untuk sekali makan di mal. Namun bagi Udin, angka itu adalah simbol kemenangan harian.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya