TOTALBANTEN.COM, SERANG – Di bawah reruntuhan batu karang Istana Surosowan yang kini membisu, pernah berdenyut pusat perdagangan dunia yang membuat kekuatan-kekuatan Eropa gemetar.
Namun, sejarah mencatat bahwa kejatuhan sebuah bangsa sering kali tidak dimulai dari gempuran meriam asing di garis pantai, melainkan dari retakan di meja makan keluarga.
Sejarah kolonialisme di Nusantara kerap kali menunjuk Juni 1596 sebagai titik mula Belanda menginjakkan kaki di Nusantara, sekarang Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kala itu, empat kapal di bawah komando Cornelis de Houtman bersandar di pelabuhan Banten. Dalam catatan Eerste Schipvaart, Belanda terperangah melihat sebuah emporium yang mereka juluki sebagai ‘Venesia dari Timur’.
Bagi Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Banten bukan sekadar mitra dagang, tapi adalah rintangan bagi ambisi monopoli.
Persaingan ini mencapai titik panas saat Sultan Ageng Tirtayasa naik takhta. Ia bukan hanya seorang penguasa, melainkan arsitek kedaulatan yang membangun kanal irigasi raksasa dan memodernisasi militer dengan bantuan tenaga ahli lintas bangsa.
Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten adalah pelabuhan bebas perdagangan yang menantang hegemoni Batavia.
Editor : Imam Maulana
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya