Namun, stabilitas itu goyah dari dalam. Abu Nashar Abdul Qahhar atau dikenal Sultan Haji, sang putra mahkota, terjebak dalam krisis identitas dan paranoia politik.
Sejarawan Claude Guillot dalam bukunya, Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, membedah bagaimana VOC secara cerdik mengeksploitasi keraguan Sultan Haji.
Belanda membawa kabar burung bahwa takhta Sultan Haji akan diberikan kepada Pangeran Purbaya, hal ini yang menjadi pemantik pengkhianatan Sultan Haji pada ayahnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada 1680, ia memutuskan bersekutu dengan VOC untuk mendongkel ayahnya sendiri. Strategi divide et impera atau adu domba ini berjalan mulus.
VOC membantu pemberontak Sultan Haji dengan mengirimkan sedikitnya 1.000 hingga 1.500 serdadu Eropa berpengalaman dan ribuan tentara bayaran Ambon serta Bugis untuk mengepung keraton Tirtayasa.
Sultan Ageng Tirtayasa yang tertangkap dijebloskan ke dalam penjara oleh darah dagingnya sendiri. Kemenangan Sultan Haji atas ayahnya pada 1683 adalah kemenangan semu.
Melalui Perjanjian 1684 yang tertuang dalam Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, Banten secara de facto menjadi protektorat Belanda. Sultan Haji terjerat dalam kondisi psikologis learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari.
Editor : Imam Maulana
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya