Rifki merupakan satu diantara 53 ribu sarjana yang per Februari 2025 tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai pengangguran.
Secara keseluruhan pengangguran terbuka di Banten berjumlah 412 ribu orang atau 6,64 persen dari total Penduduk Usia Kerja (PUK) sebanyak 9,44 juta orang.
Dari ratusan ribu pengangguran di Banten itu, 9,34 persen pengangguran terbuka disumbang oleh lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Artinya, dari 100 orang angkatan kerja tamatan SMA terdapat sekitar 9 orang penganggur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi terbalik dirasakan oleh tamatan Diploma I/II/III dan Diploma IV, S1, S2, S3, di mana serapan kerja masih sangat rendah yakni 11,90 persen. Jauh dari jumlah serapan kerja tamatan SMA ke atas, yang mencapai 49,62 persen.
Padahal, berdasarkan data yang dimiliki Total Banten, jumlah Industri Skala Menengah dan Besar, sebanyak 3.397 perusahaan aktif pada tahun 2024.
Industri ini didominasi oleh sektor manufaktur seperti kimia, logam (baja), makanan, dan tekstil yang tersebar di Cilegon, Serang dan Tangerang.
Sedangkan untuk Industri Mikro dan Kecil (IMK), jumlahnya jauh lebih besar, yakni mencapai 39.673 unit usaha dengan sebaran di 8 Kabupaten Kota.
Bagi Rifki, Banten adalah ironi yang nyata. Provinsi yang dikenal sebagai pusat industri manufaktur terbesar di Indonesia ini justru menjadi medan tempur yang ‘brutal’ bagi para lulusannya sendiri.
“Banten itu gudangnya pabrik, tapi kalau kita sarjana baru tanpa pengalaman, rasanya seperti mencoba mendobrak pintu besi tanpa kunci,” keluh Rifki.
Rifki mengaku akan kembali melanjutkan studi ke magister atau S2 untuk menghindari label pengangguran.
Sihab (25) sarjana Administrasi Publik, lebih memilih menjadi driver di salah satu ojek online (Ojol) di Banten, saking sempitnya lapangan kerja bagi lulusan sarjana seperti dirinya.
“Saat ini profesi masuk akal dan mereka tidak tanya IPK, yang penting bisa jualan dan komunikatif,” ujar Sihab.
Faktor Sarjana ‘Nganggur’
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






