Tak sedikit sarjana di Banten merasa menjadi ‘hantu’ di daerahnya sendiri. Ketatnya persaingan dan tingginya standar perusahaan membuat mereka terpaksa beralih profesi (seperti menjadi driver ojek online) atau terjebak dalam kecemasan sosial akibat sulitnya menembus pintu industri.
TOTALBANTEN.COM, SERANG – Provinsi Banten secara konsisten menduduki peringkat atas sebagai destinasi investasi nasional. Namun, di balik megahnya pabrik-pabrik di Cilegon dan luasnya kawasan industri di Serang serta Tangerang, tersimpan potret buram tingginya angka pengangguran di level lulusan Universitas (Sarjana).
Di balik deretan pabrik raksasa yang membentang tersebut, ada suara-suara yang kian lirih namun penuh kecemasan. Salah satunya datang dari Rifki Sukmawan (25) seorang lulusan Akutansi dari sebuah Universitas Swasta di Banten diwisuda 2023 lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pukul 03.00 WIB. Saat sebagian besar warga Kota Serang terlelap dalam dinginnya sisa hujan semalam, lampu di kamar Rifki masih menyala.
Di depannya, layar laptop memancarkan cahaya biru yang pucat, menampilkan puluhan tab LinkedIn, portal loker, dan artikel jurnal yang tak benar-benar ia baca.
Bagi Rifki begadang bukan lagi soal tugas akhir yang dikejar deadline. Ini adalah mekanisme pertahanan diri. Di keheningan malam, ia merasa aman dari pertanyaan-pertanyaan penghakiman tentang ‘kerja di mana?’.
Namun, di saat yang sama, malam adalah waktu di mana kepalanya bising dengan pertanyaan: ‘Ke mana arah hidup saya setelah toga itu dilepas?’
Pagi hari bagi Rifki adalah momen paling menyiksa. Ketika cahaya matahari mulai mengintip dari celah jendela, ia justru merasakan kecemasan yang hebat.
Ia mendengar suara tetangganya memanaskan motor untuk berangkat ke kawasan industri di Cikande atau Bojonegara.
Siang harinya dihabiskan dalam kelesuan. Rifki seringkali pura-pura sibuk di depan laptop jika ibunya lewat di depan kamar.
Ia melakukan aktivitas ‘semu’: memperbaiki CV untuk ke-50 kalinya, mengganti template portofolio, atau sekadar melakukan scrolling tanpa henti.
“Saya merasa seperti hantu di rumah sendiri. Ada, tapi tidak memiliki fungsi,” kata Rifki tersenyum tipis di kantor Total Banten, Jumat (10/1/2026).
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






