Pengamat Pendidikan di Banten, Rizal Fauzi berpandangan bahwa ada tiga faktor utama yang membuat sarjana sulit masuk ke dunia kerja, pertama; ketimpangan keterampilan atau skill.
“Industri di Banten sangat berorientasi pada teknis dan automasi. Sementara itu, banyak lulusan universitas lokal yang masih mengandalkan teori konvensional tanpa penguasaan teknologi digital atau sertifikasi BNSP yang spesifik dibutuhkan pabrik;” katanya.
Faktor yang kedua lanjut Rizal, karena serbuan pendatang, posisi strategis Banten sebagai tetangga Jakarta membuat persaingan tidak hanya antar-warga lokal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sarjana dari seluruh penjuru Indonesia datang menyerbu lowongan di Tangerang dan Serang, membuat lulusan lokal harus berjuang ekstra keras,” ujarnya.
Yang terakhir ungkap Rizal, banyak perusahaan yang memiliki standar tinggi misal ‘Dicari Fresh Graduate, pengalaman minimal 2 tahun’ yang sebetulnya hal itu hanya alasan semu.
“Lelucon pahit ini menjadi kenyataan bagi banyak pelamar di Banten. Perusahaan cenderung memilih kandidat yang sudah siap pakai untuk menekan biaya pelatihan di tengah ekonomi yang melambat,” ungkapnya.
Transformasi Pendidikan Harus Menuju Sistem ‘Siap Kerja’
Menurut Rizal, agar lulusan sarjana tidak lagi menjadi penonton di rumah sendiri, sistem pendidikan di Provinsi Banten harus melakukan perombakan radikal.
Kata Dosen Universitas Serang Raya (Unsera) ini, langkah-langkah transformatif yang diperlukan yakni, perubahan Penerapan Kurikulum Dual System (Link and Match)
“Kampus tidak boleh lagi menjadi menara gading yang terisolasi. Harus ada sinkronisasi kurikulum di mana 40-50 persen masa studi dihabiskan langsung di industri melalui magang bersertifikat yang diakui sebagai SKS,” katanya.
Selain itu, kampus juga harus memiliki pusat sertifikasi profesi, karena masuk dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan ijazah saja. Mengingat, rata-rata industri di Banten membutuhkan orang yang siap kerja tanpa harus memberikan pelatihan.
“Perguruan tinggi harus bekerja sama dengan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) untuk menerbitkan sertifikat keahlian seperti spesialis K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), manajemen logistik, atau pemrograman tingkat lanjut,” pungkas Rizal di kantor Total Banten.






