TOTALBANTEN.COM, SERANG – Di sebuah sudut Bojonegara, waktu seolah berjalan lambat bagi Sohari. Pria kelahiran 15 Februari 1969 ini adalah potret hidup dari sebuah kesetiaan yang luar biasa atau mungkin, sebuah ketabahan yang dipaksa oleh keadaan.
Selama lebih dari tiga dekade, Bojonegara menjadi saksi bisu jejak langkahnya. Sohari bukan sekadar bekerja; ia mengabdi. Perjalanannya dimulai pada tahun 1991, saat ia pertama kali menginjakkan kaki untuk membantu kegiatan di UPT Bojonegara.
Tiga puluh empat tahun lalu, ‘gaji’ bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang ia terima. Dengan upah hanya Rp25.000 per bulan, Sohari tetap tegak berdiri. Baginya saat itu, mengabdi pada negara adalah kehormatan, meski dapur rumahnya harus berjuang ekstra keras untuk tetap mengepul.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sohari adalah anomali di tengah dunia yang semakin transaksional. Saat upahnya naik menjadi Rp50.000 pada tahun 1993, ia menerimanya dengan senyum syukur yang tulus. Bertahun-tahun ia lalui, hingga angka itu perlahan merangkak naik ke angka ratusan ribu rupiah.
Ia tak pernah tinggal diam. Berkali-kali peluang tes CPNS datang, berkali-kali pula ia mencoba peruntungan. Namun, takdir nampaknya senang menguji kesabaran Sohari. Pintu menjadi abdi negara dengan status Pegawai Negeri Sipil tak pernah terbuka untuknya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






