“Rekomendasi muktamar luar biasa bisa dibicarakan kalau islah diterima. Kalau islah saja ditolak, berarti dua-duanya tidak mengindahkan prinsip perdamaian,” katanya.
Saat ditanya mengenai sosok mediator yang ideal, KH Matin menilai mediator terpenting saat ini adalah nurani masing-masing pimpinan. Ia menyebut konflik sudah terlalu sarat kepentingan hingga kebenaran sering dikalahkan oleh hawa nafsu.
“Sekarang sudah ada dua kubu. Bicara benar pun bisa dianggap salah karena nafsu ribut,” ucapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menutup pernyataannya dengan mengingatkan dampak konflik elite terhadap warga NU di akar rumput. Menurutnya, kegaduhan di tingkat pusat berpotensi melukai perasaan dan persatuan jamaah di bawah.
“Apakah para pimpinan tidak memikirkan warga di bawah? Gara-gara segelintir orang, semua ikut terdampak,” kata KH Matin.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa islah dan kesadaran moral pimpinan menjadi kunci utama untuk mengakhiri polemik dualisme PBNU dan menjaga marwah Nahdlatul Ulama. (Dayat)***






