KH Matin juga menyinggung alasan sebagian pihak yang menolak islah. Menurutnya, penolakan sering kali didasarkan pada dugaan bahwa ajakan islah berpihak pada salah satu kubu. Ia menilai dugaan semacam itu tidak cukup kuat untuk menutup pintu rekonsiliasi.
“Kalau masih dugaan, seharusnya yang didahulukan tetap islah. Menduga itu belum tentu benar,” ucapnya.
Dalam pandangannya, pimpinan NU harus menempatkan kemaslahatan organisasi dan jamaah sebagai prioritas utama. Ia mengingatkan, NU bukan milik individu atau kelompok tertentu, melainkan milik umat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau islah tidak diterima, dugaan itu justru semakin kuat. Dari situ muncul pemakzulan dan pengangkatan pejabat sementara. Akhirnya lahir dualisme,” ujarnya.
KH Matin menilai akar persoalan saat ini bukan semata soal prosedur organisasi, melainkan kegagalan untuk menjadikan islah sebagai prinsip utama. Tanpa kesadaran moral dari para pimpinan, konflik serupa berpotensi terus berulang.
“Saya berharap Rais Aam PBNU sadar, Ketua Umum PBNU sadar. Kalau tidak sadar semua, lebih baik mundur. Beri kesempatan kepada orang-orang yang benar-benar khidmah tanpa kepentingan,” tegasnya.
Terkait wacana Muktamar Luar Biasa (MLB), KH Matin menyebut langkah tersebut bisa menjadi opsi, namun hanya relevan jika didahului oleh kesepakatan islah sebagai dasar rekonsiliasi.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






