“Ini momentum untuk merumuskan gagasan besar. Saat ini, Pak Edi Santoso tengah menyusun Raperda agar budaya kita terlindungi dan lestari,” kata Nuri.
Ia menjelaskan, budaya bukan sekadar produk fisik seperti batik atau kuliner. Budaya adalah hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat.
“Budaya harus dipahami sebagai kekuatan berpikir yang melahirkan kreasi. Inilah pendorong kemajuan Kota Serang,” jelasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Isu Cagar Budaya dan Warisan Leluhur
Isu perlindungan situs bersejarah menjadi sorotan utama. Peserta kongres menekankan pentingnya pendataan dan pencatatan cagar budaya agar masuk daftar resmi. Langkah ini dianggap mendesak untuk menjaga kekayaan sejarah dan memperkuat fondasi kebudayaan.
Selain itu, forum juga menyoroti perlunya inovasi budaya. Produk kreatif baru harus lahir di tengah masyarakat tanpa mengabaikan warisan leluhur.
“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tapi juga pemikiran produktif untuk masa depan,” tegas Nuri.
Rekomendasi Kongres
Dari kongres ini lahir tiga rekomendasi utama. Pertama, hasil pokok pikiran akan dimasukkan ke dalam Raperda Penguatan Kebudayaan. Kedua, rekomendasi akan diserahkan kepada Pemerintah Kota Serang untuk dijadikan strategi pembangunan berbasis budaya. Ketiga, budaya diharapkan menjadi motor penggerak mewujudkan Serang sebagai Kota Madani yang berkarakter.
“Pokok pikiran ini akan kita kawal bersama. Semua lahir dari perspektif beragam, mulai dari pemangku adat, pelaku budaya, hingga akademisi. Tujuannya agar budaya Serang benar-benar bergelora,” ujar Nuri.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya