TOTALBANTEN.COM, SERANG – Pagi belum sepenuhnya datang di Kampung Lebak, Desa Sambilawang, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang. Asap tipis masih menggantung dari tungku rebusan kedelai di rumah produksi milik Mursidin.
Di dapur sederhana itu, lelaki paruh baya tersebut mulai membuka satu demi satu bungkus tempe hasil fermentasi semalaman. Tangannya bergerak perlahan, nyaris otomatis. Pekerjaan itu telah ia lakukan sejak 1995.
Sekilas, tak ada yang berubah dari rumah produksi kecil itu. Bau kayu bakar bercampur aroma kedelai rebus masih memenuhi ruangan. Tumpukan ember dan plastik pembungkus tersusun di sudut dapur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, bagi Mursidin, keadaan sebenarnya telah banyak berubah, terutama ketika nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Beberapa hari terakhir, publik ramai membicarakan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dollar sehingga dinilai tidak terlalu terdampak gejolak kurs.
“Rakyat desa tak pakai dolar, kok,” ujar Prabowo.
Bagi Mursidin, dolar memang tidak pernah hadir dalam bentuk lembaran uang hijau. Ia tak pernah berurusan dengan transaksi valuta asing, pasar modal, ataupun kebijakan moneter. Namun, dampak kenaikan dollar, menurut dia, terasa hampir setiap hari di dapur produksinya.
“Harga kedelai ikut naik kalau dolar naik,” kata Mursidin, Selasa (19/5/2026).
Ia mengaku tidak memahami istilah ekonomi makro seperti cadangan devisa atau intervensi pasar. Akan tetapi, ia memahami betul bagaimana perubahan kurs perlahan menggerus ruang hidup pelaku usaha kecil.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








