“Rusak semua. Apalagi kalau hujan, saya tidurnya harus minggir-minggir. Air saya tadahi pakai ember sampai penuh,” ujarnya.
Ketika hujan turun, tak ada ruang yang benar-benar kering. Air merembes dari atap, mengalir melalui celah dinding, lalu menggenangi lantai. Rumah itu berubah menjadi ruang yang dingin, lembap, dan tidak nyaman untuk ditempati.
Kondisi tersebut juga berdampak pada kesehatan Marnah. Di usianya yang sudah lanjut, ia mengaku kerap jatuh sakit saat hujan datang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau hujan turun saya sering sakit-sakitan. Kadang minta bantuan tetangga,” katanya.
Meski telah lama hidup dalam kondisi memprihatinkan, Marnah mengaku belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Bantuan sosial pun belum pernah ia rasakan.
“Belum ada yang datang ke rumah. Saya sudah pernah minta bantuan ke desa, tapi katanya nanti-nanti saja,” ucapnya.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya







