TOTALBANTEN.COM, SERANG — Pagi baru saja lewat ketika Misnadi Riyanto (45) membuka pintu rumahnya yang nyaris tak lagi pantas disebut rumah.
Dindingnya kusam, sebagian lapuk dimakan usia. Atapnya tambal-sulam. Lantainya lembap, menyisakan bekas air yang belum lama surut.
Di Kampung Tangsi, Desa Kampung Baru, Kecamatan Pamarayan, bangunan kecil itu berdiri rapuh di antara rumah-rumah lain yang sudah jauh lebih layak. Di sanalah Misnadi bertahan hidup selama hampir dua dekade.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi banyak orang, rumah adalah tempat pulang paling nyaman. Bagi Misnadi, rumah justru menjadi tempat ia paling sering menahan keluh.
“Sudah hampir 20 tahun saya tinggal di sini. Tapi karena kondisinya begini, sering juga saya tinggalkan. Enggak layak dihuni,” ujarnya lirih saat ditemui Total Banten, Kamis (5/2/2026).
Tak ada bagian rumah yang benar-benar utuh. Kayu penyangga mulai rapuh, dinding berlubang di beberapa sisi, dan atap bocor di banyak titik.
Jika siang terik, panas menyengat langsung menembus ke dalam. Jika hujan turun, air lebih dulu masuk daripada angin.
Editor : Engkos Kosasih
Sumber Berita : totalbanten.com
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






