Ia menegaskan, literasi politik tidak berhenti pada pemahaman teknis pemilu, tetapi juga mencakup kemampuan memilah informasi, bersikap kritis, dan terlibat secara sadar dalam proses demokrasi.
Ali memaparkan bahwa pemilih muda mendominasi Pemilu 2024. Generasi milenial tercatat sekitar 33,6 persen dan Generasi Z sebesar 22,85 persen, atau lebih dari 55 persen total pemilih tetap nasional. Dominasi ini menjadikan generasi muda sebagai kekuatan elektoral penentu arah politik nasional.
Menurut dia, pemilih muda cenderung sensitif terhadap isu pendidikan, lapangan kerja, lingkungan hidup, serta transparansi dan antikorupsi. Mereka juga lebih menyukai pemimpin yang komunikatif, otentik, dan konsisten antara ucapan dan tindakan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Generasi Z sangat peka terhadap ketidakjujuran dan pencitraan berlebihan,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Bawaslu Provinsi Banten Ajat Munajat menyoroti tantangan literasi politik yang diperparah oleh minimnya pendidikan politik formal dan maraknya informasi tak terverifikasi di media sosial. Kondisi ini, kata dia, berisiko melahirkan pemilih apatis dan rentan terpapar hoaks.
“Literasi politik adalah fondasi demokrasi yang sehat. Generasi muda harus aktif mencari informasi kredibel, menolak hoaks, dan ikut mengawasi proses demokrasi,” kata Ajat.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya