Klaim ini didasarkan pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2025 yang tercatat di level 52,89, naik signifikan 1,05 poin dari bulan sebelumnya.
Angka IKI ini, menurut Febri, jauh lebih representatif dibandingkan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang justru menunjukkan kontraksi di angka 46,9 pada Juni 2025.
“IKI lebih mencerminkan kinerja manufaktur karena sampelnya mencakup 3.600 perusahaan industri per subsektor, sementara PMI hanya survei 300 perusahaan,” tukasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan berbekal IKI, Febri sesumbar bahwa industri manufaktur Indonesia tidak pernah mengalami kontraksi. Sebuah klaim yang tampaknya bertolak belakang dengan fakta jutaan buruh yang kini kehilangan pekerjaan.
“Selama ini dari perhitungan IKI, belum pernah industri manufaktur Indonesia mengalami kontraksi,” tutup Febri.***






