Menurut Istianah, ISPA memang selama ini termasuk dalam 10 besar penyakit yang paling banyak ditemukan di Kabupaten Serang, bahkan kerap berada di urutan pertama.
“Kalau untuk kasus ISPA sendiri itu selalu menduduki ranking 10 besar penyakit di Kabupaten Serang karena ISPA sendiri infeksi saluran pernapasan akut. Jadi mulai dari saluran nafas bagian atas sampai saluran nafas bagian bawah itu masuk dalam kategori ISPA kalau dia terjangkitnya akut atau kurang dari 14 hari,” tuturnya.
Ia menjelaskan, spektrum penyakit ISPA cukup luas. ISPA tidak hanya berkaitan dengan batuk dan pilek, tetapi dapat berkembang menjadi penyakit pada saluran pernapasan yang lebih serius.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Spektrum ISPA itu sangat luas ya, mulai dari batuk pilek biasa, nyeri tenggorokan, laringitis, sampai bronkitis, bronkopneumonia, pneumonia itu semua masuk dalam kategori ISPA. Jadi spektrumnya sangat luas sehingga memang dia menduduki selalu di 10 besar penyakit ya, seringnya dia jadi nomor satu gitu yang paling banyak,” tutur Istianah.
Kemarau Panjang Ikut Picu ISPA
Istianah menyebut peningkatan kasus ISPA di Kabupaten Serang tidak bisa hanya dikaitkan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Menurutnya, kondisi kemarau panjang dalam beberapa bulan terakhir juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus ISPA.
“Kasus ISPA semakin meningkat karena beberapa bulan terakhir terjadinya kemarau panjang di Kabupaten Serang, perubahan iklim di mana banyak debu, kemudian polusi udara, daya tahan tubuhnya menurun, masyarakat kurang minum dan sebagainya itu akan memperbanyaklah jumlah kasus ISPA,” ucap Istianah.
Di tengah kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau, Dinkes Kabupaten Serang juga meningkatkan pemantauan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang dinilai terdampak signifikan.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya







