TOTALBANTEN.COM, SERANG – Seorang perempuan bernama Siti Nurismayanti, yang bekerja sebagai relawan di SPPG Panyirapan 3, Desa Panyirapan, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, mengaku mendapat perlakuan yang tidak adil setelah diberhentikan tanpa alasan yang jelas.
Siti mengatakan dirinya tidak menerima surat pemberhentian dari pihak yayasan maupun penjelasan resmi terkait penghentian kerja tersebut.
Ia menyebut keputusan itu disampaikan melalui admin yang mendapat mandat dari Ketua SPPG.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Entah dari pekerjaan saya kurang baik atau bagaimana, saya juga tidak tahu. Pokoknya tidak jelas saja,” ujar Siti saat ditemui di lokasi, Senin malam (13/7/2026).
Siti menjelaskan, pemberitahuan agar dirinya tidak lagi bekerja disampaikan melalui pesan singkat setelah masa libur sekolah berakhir dan SPPG akan kembali beroperasi.
“Bukan beliau yang langsung menghubungi saya, tetapi melalui admin. Isinya hanya bilang saya ditahan dulu, jangan masuk kerja. Nanti kalau ada yang izin atau sakit baru saya dipanggil untuk menggantikan. Jadi statusnya tidak jelas,” katanya.
Ia mengungkapkan baru sekitar dua pekan bekerja sebagai relawan di SPPG Panyirapan 3. Menurutnya, dirinya direkrut untuk menggantikan relawan sebelumnya yang telah keluar.
“Karena ada yang keluar, jadi saya masuk menggantikannya,” ucapnya.
Siti berharap dapat kembali bekerja karena menjadi tulang punggung keluarganya.
“Harapan saya cuma bisa masuk kerja lagi, karena saya tulang punggung keluarga,” pungkasnya.
Di lokasi yang sama, Salah Satu Asisten Lapangan (Aslap) berisisial A, juga menyampaikan kekecewaannya atas keputusan Kepala SPPG Panyirapan 3.
“Pemecatan secara sewenang-wenang itu saya sebenarnya tidak tahu alasannya. Tahu-tahu sudah terjadi pemecatan terhadap relawan dari warga sini,” ujar Salah satu Aslap
Menurutnya, relawan yang diberhentikan merupakan warga setempat, sementara posisi tersebut justru diisi oleh orang dari luar Banten.
“Tahu-tahu relawan di sini dikeluarkan, lalu digantikan orang dari kampungnya. Saya juga tidak tahu bagaimana prosesnya,” katanya.
Ia mengaku tidak pernah diajak berkoordinasi terkait pemberhentian Siti.
“Terus terang saya kurang ada koordinasi. Cara bicaranya juga kadang arogan. Pernah bilang besok Aslap jangan kerja. Saya sampai emosi karena beliau seolah-olah seenaknya mengatakan saya dipecat. Mentang-mentang kami ini relawan,” ungkapnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala SPPG Panyirapan 3 belum memberikan keterangan resmi terkait pemecatan tersebut kepada Totalbanten.com.
Editor : Engkos Kosasih








