Aniendya kemudian memilih menyelesaikan persoalan tersebut dengan bertemu secara langsung di kawasan Kalibata.
Namun, menurut Syarifudin, IRD tidak datang seorang diri. Sekitar pukul 04.00 WIB, IRD tiba bersama sejumlah orang. Aniendya memperkirakan terdapat sekitar tiga mobil dengan kurang lebih delapan orang.
Pertemuan yang awalnya berlangsung dengan percakapan kemudian berubah tegang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah seorang teman Aniendya berteriak menyebut adanya senjata api. Mendengar hal tersebut, Aniendya dan temannya memilih meninggalkan lokasi karena merasa takut.
Saat berusaha melarikan diri, Aniendya terjatuh. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah orang yang datang bersama IRD diduga menghampiri dan memukul Aniendya.
“Saat anak saya jatuh, kemudian dipukul beberapa orang. Kejadiannya cepat sekali sampai anak saya tidak sadarkan diri,” kata Syarifudin.
Ketika tersadar, kondisi Aniendya sudah berbeda. Wajahnya berdarah dan mengalami luka serta pembengkakan di sejumlah bagian tubuh.
Aniendya kemudian mendapatkan pertolongan medis dan menjalani visum. Syarifudin menilai perkara tersebut tidak boleh berhenti sebatas laporan.
Ia meminta polisi mengungkap secara terang siapa saja yang datang ke lokasi, siapa yang melakukan pemukulan, serta apa peran masing-masing pihak.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya