TOTALBANTEN.COM SERANG – Pagi itu, halaman SMPN 3 Kramatwatu, Kabupaten Serang tampak seperti biasa. Siswa datang silih berganti, suara sapu menyapu lantai bercampur riuh percakapan anak-anak.
Di sudut lain, Mahwani yang selama belasan tahun menjadi bagian dari rutinitas itu kini tak lagi terlihat. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya penjaga sekolah. Tapi bagi Mahwani, tempat itu adalah ruang hidup yang ia rawat selama kurang lebih 13 tahun.
Ia masih mengingat betul momen ketika dipanggil ke ruang kepala sekolah. Tanpa banyak penjelasan, keputusan itu datang begitu saja ia diminta berhenti secara tiba-tiba.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya dipanggil sama kepala sekolah dan bendahara. Habis itu langsung disuruh berhenti. Saya mah orang kecil, cuma bisa iya-iya saja,” ucapnya kepada Jurnalis Total Banten, Sifullah, Rabu (8/4/2026).
Tak ada surat resmi yang ia pegang. Tak ada penjelasan panjang yang bisa ia cerna. Yang tersisa hanya kebingungan dan perasaan ditinggalkan oleh tempat yang selama ini ia jaga.
Yang membuat Mihawani semakin terpukul muncul cerita yang berbeda di sekolah. Pihak kesiswaan menyebut Mahwani justru dianggap mengundurkan diri. Alasannya, ia disebut ingin beralih profesi menjadi nelayan. Selain itu, ia dinilai kurang disiplin dalam menjalankan tugas.
“Yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri. Katanya mau kerja menjala ikan. Selain itu juga dinilai kurang maksimal, kurang bersedia lembur,” ujar salah satu perwakilan sekolah.
Bagi Mahwani, tudingan itu seperti menambah luka. Saat ditemui kembali di rumahnya, ia membantah semua alasan tersebut. Ia merasa tidak pernah menyampaikan keinginan untuk berhenti, apalagi meninggalkan pekerjaan yang telah ia jalani lebih dari satu dekade.
“Saya tidak malas. Saya masih betah kerja di situ. Saya tidak pernah bilang mau berhenti,” katanya.
Di benaknya, ada dugaan lain yang sulit ia buktikan. Ia merasa posisinya sudah lama tak lagi diinginkan. Apalagi saat itu, bertepatan dengan proses penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Mungkin kepala sekolah sudah tidak suka, atau sudah ada pengganti. Pas itu memang lagi ada penerimaan PPPK. Saya dipanggil, lalu langsung diberhentikan, tanpa pesangon,” ujarnya.
Kini, hari-hari Mahwani berjalan tanpa kepastian. Dari rutinitas menyapu halaman sekolah, ia berpindah pada ruang tunggu pelayanan kesehatan membawa cerita yang tak kunjung selesai.
Tak ada lagi suara lonceng sekolah yang ia dengar dari dekat. Tak ada lagi ruang yang ia rawat setiap hari, yang tersisa adalah harapan.
“Saya tidak rido dengan semua ini. Semoga keadilan Allah yang berbicara. Harapan saya cuma satu, ada keadilan. Biar kejadian seperti ini tidak menimpa orang lain,” ucapnya.
Penulis : Sifullah
Editor : Engkos Kosasih
Sumber Berita : Totalbanten.com






