“Orang sekarang mau belanja kecil jadi pikir-pikir. Harus parkir dulu, jalan kaki. Dulu bisa langsung berhenti di depan toko,” ujarnya seusai rapat.
Menurut Dian, waktu sore hingga malam justru merupakan periode paling ramai, terutama pada hari kerja ketika warga pulang dari kantor. Ketika akses ditutup, arus pengunjung menurun drastis.
Ia menilai konsep penataan kawasan yang membatasi kendaraan lebih cocok untuk destinasi wisata, bukan kawasan perdagangan kebutuhan harian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini kan pertokoan. Orang datang memang mau beli, bukan sekadar jalan-jalan,” kata dia.
Sejumlah pedagang lain menyampaikan hal serupa. Mereka khawatir perubahan wajah kawasan tidak diikuti dengan perhitungan terhadap pola belanja masyarakat yang mengandalkan kemudahan akses.
Menanggapi keluhan tersebut, Sekretaris Daerah Kota Serang Nanang Saefudin mengatakan pengaturan jam buka-tutup kendaraan masih bersifat uji coba. Pemerintah, kata dia, belum menetapkan kebijakan final.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
