Kiai Matin juga mengingatkan bahwa sejak masa Kesultanan Banten, masyarakat Serang dikenal terbuka terhadap perbedaan. Sejarah itu, katanya, harus menjadi teladan dalam memperkuat nilai toleransi di masa kini.
“Dari dulu Banten sudah dikenal sebagai daerah yang ramah dan terbuka. Nilai itu harus terus kita jaga,” ujarnya.
Ia menilai tantangan terbesar dalam menjaga kerukunan muncul ketika ajaran agama disalahpahami secara emosional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Agama harus dipahami berdasarkan wahyu, bukan hawa nafsu atau kepentingan pribadi,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, FKUB berencana menggelar Pesta Budaya Lintas Agama pada Januari 2026 bertepatan dengan Hari Amal Bakti. Acara ini akan menampilkan pawai budaya, pertunjukan seni lintas agama, dan bazar UMKM lokal.
“Konsepnya kolaboratif, setiap agama bisa menunjukkan seni dan budayanya. Ini bukan mencampuradukkan ajaran, tapi memperkuat rasa saling menghormati,” pungkas Kiai Matin.*** (Dayat).