TOTALBANTEN.COM, SERANG – Di lereng Gunung Tukung Gede, jauh dari hiruk-pikuk kawasan industri yang mengepung Kabupaten Serang, ada sebuah desa yang seolah berjalan lambat meninggalkan zaman. Namanya Desa Cikedung.
Desa ini seperti hidup di dua dunia yang berbeda. Dari kejauhan, lampu-lampu industri di Kabupaten Serang terlihat terang dan megah. Cerobong pabrik berdiri tinggi, jalan-jalan besar terus dibangun, dan geliat ekonomi tumbuh dari tahun ke tahun.
Namun di Cikedung, kehidupan masih berkutat pada jalan rusak, pendidikan yang sulit dijangkau, pelayanan kesehatan yang minim, dan kemiskinan yang terasa begitu dekat dengan keseharian warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pagi di Desa Cikedung dimulai dengan wajah-wajah lelah. Para petani berjalan menuju sawah sambil memikul cangkul di pundak mereka. Langkah kaki melewati jalan tanah berbatu yang licin saat hujan turun.
Sebagian dari mereka bahkan harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk sampai ke ladang yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan. Di desa itu, hidup terasa berat bahkan sejak matahari belum sepenuhnya terbit.
Anak-anak sekolah menjadi saksi paling nyata tentang bagaimana sulitnya hidup di desa tertinggal. Ada yang harus berjalan belasan kilometer melewati hutan dan menanjak bukit demi sampai ke sekolah menengah atas.
Ketika musim hujan datang, seragam mereka penuh lumpur. Sepatu basah. Motor yang mereka gunakan kerap terpeleset di jalan rusak. Keadaan itu bukan berlangsung sehari atau dua hari. Sudah bertahun-tahun mereka menjalaninya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








