“Ibu mah enggak pernah dapat,” ucapnya lirih.
Kalimat sederhana itu terasa lebih menyakitkan daripada keluhan panjang. Di tanah yang sebenarnya subur itu, masih banyak warga hidup dalam kekurangan.
Ada orang tua yang kebingungan mencari uang untuk membeli seragam sekolah anaknya. Ada rumah bocor yang setiap hujan air masuk dari atap. Ada warga sakit yang memilih diam di rumah karena tidak punya biaya dan fasilitas kesehatan terlalu jauh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang paling menyedihkan, banyak warga tidak lagi berani berbicara terbuka. Mereka hanya mengeluh di sudut-sudut rumah. Tentang jalan rusak. Tentang pembangunan yang dianggap tidak merata. Tentang bantuan yang dinilai pilih kasih.
Tetapi sebagian besar memilih diam.Takut dianggap melawan. Takut dipersulit. Desa Cikedung hari ini seperti desa yang tertinggal sendirian. Alamnya indah. Sawahnya luas. Gunungnya berdiri gagah mengelilingi kampung. Namun di balik keindahan itu, masyarakatnya masih hidup dalam kesusahan yang panjang.
Anak-anak tetap berjalan menembus lumpur demi sekolah. Para petani tetap bekerja di bawah terik matahari dengan penghasilan yang tak menentu.
Dan ibu-ibu miskin masih menyimpan harapan kecil bahwa suatu hari nanti akan ada yang benar-benar peduli terhadap kehidupan mereka. Sebab bagi warga Cikedung, kemajuan selama ini terasa seperti cerita yang hanya mereka dengar dari tempat lain. (Dirhat)








