“Kalau fenomena yang saya amati, kecenderungannya sudah mulai merambah kelompok muda, bahkan anak SMP. Saya pernah melihat sendiri anak-anak SMP berkumpul di depan minimarket,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pengamatan tersebut merupakan fenomena yang dijumpai secara langsung dan bukan hasil pengukuran statistik. BPS belum memiliki angka khusus yang dapat memastikan peningkatan jumlah perokok di kalangan pelajar SMP berdasarkan keterangan tersebut.
Achmad menambahkan, sebagian perokok berusia lebih tua mungkin berhenti karena kesadaran terhadap kesehatan, edukasi, atau kondisi medis. Sementara itu, kebiasaan merokok pada kelompok muda perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui jumlah dan perkembangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang sudah tua mungkin ada yang mulai sadar, ada yang terkena penyakit, atau terpaksa berhenti karena kondisi kesehatan. Sementara kelompok muda mungkin masih dalam tahap mencoba-coba. Tetapi, untuk mengetahui jumlahnya, kita belum mengecek secara khusus,” tuturnya.
Berdasarkan data Susenas 2025, setelah Pandeglang, persentase penduduk yang merokok setiap hari tercatat di Kabupaten Lebak sebesar 34,06 persen, Kabupaten Serang 32,16 persen, dan Kabupaten Tangerang 30,58 persen.
Adapun Kota Serang tercatat 32,16 persen, Kota Cilegon 27,24 persen, Kota Tangerang 23,87 persen, dan Kota Tangerang Selatan 19,31 persen. Data tersebut menunjukkan persentase penduduk yang merokok setiap hari di Pandeglang lebih tinggi dibandingkan tujuh kabupaten/kota lainnya di Banten.
Editor : Engkos Kosasih