“Kami berharap masyarakat ikut menjaga. Jalan dan jembatan ini dibangun dengan standar jalan desa. Jika digunakan kendaraan bermuatan berlebih seperti pengangkut material batu, tentu akan mempercepat kerusakan. Harapan kami infrastruktur ini bisa bertahan minimal 10 tahun,” katanya.
Warga Mengaku Selama Ini Was-was Melintas
Tokoh agama Desa Mekarsari, H. Gulamudin, membenarkan kondisi jembatan yang selama ini membuat warga merasa khawatir saat melintas, terutama para pelajar yang setiap hari menuju sekolah maupun pesantren.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Setiap hari kami bolak-balik dengan perasaan was-was. Di sini ada pesantren, SD, MTs, SMA, dan SMK. Banyak siswa yang berasal dari seberang. Bahkan ada siswa yang sempat berhenti sekolah karena takut menyeberangi jembatan saat kondisi banjir,” ujar Gulamudin.
Ia mengaku pernah mengalami sendiri kesulitan saat melintasi jembatan tersebut ketika hendak menghadiri kegiatan ceramah.
“Saya pernah mau ceramah pada bulan Rajab. Mobil yang saya kendarai sempat terperosok dan tidak bisa jalan. Akhirnya harus dibantu warga untuk mendorong kendaraan,” katanya.
Karena itu, Gulamudin menyambut baik pembangunan Jembatan Mekarsari yang telah lama dinantikan masyarakat.
“Alhamdulillah, masyarakat sangat bahagia. Ini sudah lama ditunggu. Apalagi wilayah sini merupakan daerah pertanian. Saat panen, warga sering takut membawa hasil panen melintasi jembatan yang kondisinya rusak. Kami bersyukur Pemerintah Provinsi Banten memberikan perhatian dengan membangun jembatan ini,” ujarnya.
Ia berharap pembangunan jembatan dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya








