Andra menjelaskan kondisi jembatan eksisting saat ini sudah memprihatinkan. Selain struktur kayu yang mulai longgar, sejumlah laporan masyarakat menyebutkan adanya kecelakaan yang terjadi akibat kondisi jembatan tersebut.
“Tadi kita sama-sama melihat Jembatan Piano. Kalau dilewati bunyinya seperti piano karena kayu-kayunya sudah longgar. Banyak laporan warga yang mengalami kecelakaan, termasuk seorang kiai yang pernah terjatuh. Padahal jembatan ini setiap hari dilintasi santri, siswa sekolah, dan masyarakat yang menjalankan aktivitas ekonomi,” katanya.
Ia menegaskan pembangunan Jembatan Mekarsari merupakan bagian dari realisasi janji Pemerintah Provinsi Banten melalui program pembangunan infrastruktur desa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini bagian dari janji kami kepada masyarakat melalui program Jalan Desa Sejahtera. Meski yang dibangun berupa jembatan, fungsinya menyambungkan dua ruas jalan yang kondisinya sudah baik dan dibangun oleh Kabupaten Serang maupun Kabupaten Tangerang,” ujar Andra.
Pada tahun anggaran 2026, Pemprov Banten mengalokasikan pembangunan tiga jembatan serta lebih dari 30 ruas jalan desa yang tersebar di sejumlah wilayah.
“Ada tiga jembatan yang dibangun tahun ini, termasuk di Mekarsari dan Pontang. Selain itu ada lebih dari 30 ruas jalan desa. Mudah-mudahan kondisi fiskal kita semakin baik sehingga target pembangunan jalan desa dapat terus ditingkatkan,” kata Andra.
Ia mengakui tingginya harapan masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur setelah sejumlah ruas jalan desa mulai diperbaiki oleh pemerintah.
“Ketika satu wilayah sudah dibangun, daerah lain tentu berharap mendapatkan pembangunan yang sama. Itu hal yang wajar. Karena itu kami terus berikhtiar agar semakin banyak jalan yang tersambung, konektivitas meningkat, dan sektor pertanian ikut berkembang,” ujarnya.
Andra juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga infrastruktur yang telah dibangun, terutama dari potensi kerusakan akibat kendaraan bertonase berlebih.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya








