“Tahun kemarin saya juga datang ke sini. Sama, tidak kebagian perahu. Makanya sekarang saya sengaja sewa jetski supaya bisa melihat langsung ritual di laut,” tuturnya.
Namun di balik kemeriahan dan antusiasme masyarakat, terdapat catatan yang tak bisa diabaikan. Perahu pengantin, yakni perahu utama yang membawa sesaji dan persembahan laut, tidak dapat merapat ke dermaga TPI Carita setelah prosesi selesai dilaksanakan.
Akibatnya, rombongan Bupati Pandeglang harus menggunakan perahu motor yang disiapkan panitia untuk menyusul perahu tersebut ke tengah laut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi itu diduga terjadi akibat pendangkalan alur sungai yang menjadi akses keluar-masuk perahu di kawasan dermaga pelelangan ikan Carita. Persoalan yang selama ini dikeluhkan nelayan tersebut kembali terlihat jelas di tengah pelaksanaan tradisi budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat pesisir.
Pendangkalan tidak hanya mengganggu aktivitas pelayaran nelayan, tetapi juga berpotensi menghambat kegiatan ekonomi dan pariwisata yang tumbuh di kawasan Carita.
Ruwat Laut tahun 2026 akhirnya bukan hanya menghadirkan pesan tentang syukur dan pelestarian tradisi. Di balik prosesi yang sakral dan meriah, tersimpan pula pengingat bahwa laut dan segala infrastruktur pendukungnya membutuhkan perhatian yang sama besar agar kehidupan masyarakat pesisir dapat terus berlayar ke masa depan.
Editor : Engkos Kosasih