Menurut Buyung, limpahan siswa ini sebagian besar merupakan calon peserta didik yang tidak tertampung di SMAN 1 dan SMAN 5 Ciputat. Ia optimistis kelanjutan program di tahun kedua ini dapat memotivasi para guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
“Sehingga ke depan kualitas sekolah swasta dapat setara dengan sekolah negeri,” katanya.
Meringankan Beban Domestik
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kehadiran program ini memberikan ruang bernapas bagi stabilitas ekonomi domestik keluarga. Zikri (17), seorang siswa kelas X sekolah swasta di Banten, mengaku sangat terbantu.
Anak dari seorang ibu penual ayam potong dan ayah yang bekerja sebagai petugas pengamanan (satpam) ini mengisahkan, biaya sekolah selama ini selalu menjadi komponen pengeluaran rutin bulanan yang membebani orang tuanya sejak ia duduk di bangku SD.
“Ya senang, sekarang orang tua tidak mengeluh lagi soal bayaran sekolah yang terus-terusan,” kata Zikri.
Kisah serupa dialami Kalita (17), siswi kelas X Jurusan Perkantoran Yayasan Pendidikan (YP) SMKS 17 Kota Cilegon. Ia sempat kecewa saat tidak lolos seleksi di SMAN 1 Cilegon karena mengkhawatirkan tingginya biaya jika terpaksa masuk ke sekolah swasta.
“Semula yang terpikir itu kalau sekolah di swasta harus membayar ini dan itu, belum lagi ada SPP bulanan. Berat dengan perekonomian orang tua yang pas-pasan. Alhamdulillah, ternyata ada program sekolah gratis dari pemerintah untuk SMK swasta,” tuturnya.
Di sisi lain, keberadaan program ini juga memberikan alternatif pilihan yang setara bagi siswa. Syeril (16), siswi kelas X Jurusan Pemasaran, memilih sekolah swasta sejak awal karena menganggap kualitasnya tidak kalah dengan sekolah negeri.
Editor : Engkos Kosasih
Sumber Berita : totalbanten.com
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya