Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama produk asal Banten dengan nilai ekspor mencapai US$610,57 juta atau sekitar Rp9,95 triliun. Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat sebesar US$503,76 juta atau sekitar Rp8,21 triliun, disusul India sebesar US$309,64 juta atau sekitar Rp5,05 triliun.
Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 34,27 persen dari total ekspor nonmigas Banten.
Sementara itu, ekspor ke kawasan ASEAN tercatat sebesar US$1,08 miliar atau sekitar Rp17,5 triliun, sedangkan ekspor ke negara-negara Uni Eropa mencapai US$555,76 juta atau sekitar Rp9,06 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut sektor usaha, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan masih mendominasi struktur ekspor Banten. Pada Januari-April 2026, sektor ini tumbuh 0,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor pertambangan dan lainnya meningkat lebih tinggi, yakni 48,71 persen, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan 23,88 persen.
Dilihat dari pelabuhan muat, sebagian besar ekspor Banten masih diberangkatkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok dengan nilai mencapai US$3,21 miliar atau sekitar Rp52,3 triliun, setara 75,37 persen dari total ekspor Banten. Adapun melalui Pelabuhan Cigading tercatat sebesar US$354,83 juta atau sekitar Rp5,78 triliun, sedangkan melalui Pelabuhan Merak mencapai US$306,51 juta atau sekitar Rp5 triliun.
Di sisi lain, aktivitas impor menunjukkan kebutuhan industri yang masih tinggi terhadap pasokan bahan baku, energi, dan barang modal dari luar negeri.
BPS mencatat nilai impor Banten sepanjang Januari-April 2026 mencapai US$14,93 miliar atau sekitar Rp243,3 triliun, meningkat 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Impor nonmigas tercatat sebesar US$12,49 miliar atau sekitar Rp203,6 triliun, naik 10,58 persen. Sementara impor migas meningkat lebih tinggi, yakni 32,28 persen menjadi US$2,44 miliar atau sekitar Rp39,7 triliun.
Sumber Berita : BPS Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
